Membiasakan Membaca Al-Qur’an Sejak Dini
Menjadi kebahagiaan tersendiri, manakala menyaksikan putra-putri kita telah lancar membaca Al-Qur’an. Ya, setiap orang tua pastinya mendambakan putra-putrinya tumbuh menjadi anak yang shaleh. Salah satu indikasinya adalah kemampuan untuk membaca Al-Quran dengan baik, benar, dan lancar. Al-Qur’an adalah pedoman hidup kaum muslimin, di mana Rasulullah pernah bersabda, bahwasanya umat ini tidak akan tersesat manakala ia berpegang teguh pada Al-Quran yang Rasulullah wariskan.
Setidaknya ada empat kewajiban kita terhadap Al-Qur’an. Yang pertama adalah membacanya. Kedua mempelajari artinya agar kita memiliki pemahaman yang utuh. Ketiga menghapalkannya. Keempat mengamalkan kandungan isi yang ada di dalamnya.
Yang menjadi persoalan kemudian, bagaimana mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an khususnya kepada anak-anak kita. Apakah hal ini merupakan perkara yang pelik dan sukar?
Jika kita melihat sejarah, bahwasanya ulama generasi awal, tidak saja sudah bisa membaca Al-Quran pada usia kanak-kanak, melainkan pula sudah bisa menghapalkannya. Imam as-Syafi`e, as-Sayuti, Ibnu Sina adalah contohnya. Bahkan Ulama masa kini pun –Syaikh Yusuf Al Qardhawi- telah menghapal Al-Qur’an secara sempurna sebelum usianya genap sepuluh tahun. Dalam pada itu, Allah Swt. telah memberikan jaminan bahwa mempelajari Al-Qur’an adalah hal yang mudah. Firman Allah Swt “…dan sesungguhnya Kami mudahkan al-Quran itu untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pengajaran...” (Surat al-Qomar, ayat: 13) menunjukan hal tersebut.
Jika mengacu pada teori The Golden Age (masa keemasan), sebagai periode yang amat penting bagi seorang anak, sejatinya masa kanak-kanak adalah masa yang paling tepat untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an sejak dini. Dengan memberikan stimulan yang tepat sejak dini, otak akan mampu menyimpan memori luar biasa. Hal ini akan sangat berguna di masa dewasa kelak, ketika simpul memorinya disentuh kembali. Karenanya, pendidikan pada masa keemasan (rentang usia 0-6 tahun) sangat menentukan tahap perkembangan anak selanjutnya
Berbagai penelitian membuktikan betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai yang baik pada seorang anak dalam periode usia keemasan itu. Kecerdesan seorang anak, menurut penelitian, mencapai 50 persen pada usia 0-4 tahun. Hingga usia 8 tahun kecerdasannya meningkat sampai 80 persen, dan puncaknya (100 persen) di usia 18 tahun.
Hal yang menguntungkan kita sebagai orang tua adalah sudah tersedianya metode yang dikembangkan untuk mempelajari Al-Quran untuk anak-anak. Ada metode Iqro, Al-Barqi, Quantum Reading Qur’an, dan sebagainya. Namun, metode saja tidak cukup, karena ia adalah salah satu bagian sarana untuk membiasakan membaca Al-Qur’an sejak dini.
Banyak faktor yang akan menunjang membiasakan membaca Al-Qur’an sejak dini. Dalam satu tulisannya, Drs. Mustofa AY, mengenalkan RUMUS ABCD. Berikut uraiannya:
R = Rumah. Maksudnya rumah adalah pusat pendidikan sejati.
U = Usaha. Maksudnya ilmu itu dipelajari.
M = Metodis. Maksudnya metodenya cocok dan meyenangkan
U = Upah. Maksudnya setiap prestasi anak hendaknya dihargai (dicium, peluk yang hangat, dan dipuji).
S = Sabar. Maksudnya ibu dan bapak harus betul-betul sabar. Ibu dan Bapak tidak boleh mengatakan jangan nakal sambil berlaku nakal (misalnya mencubit, memukul, menjewer, atau marah-marah).
A = Ajeg. Maksudnya pemberian stimulasi hendaknya diberikan secara ajeg, walaupun sangat sebentar.
B = Bermain. Maksudnya stimulasi diberikan sambil bermain. Dengan demikian, anak senang, orangtuapun senang.
C = Contoh. Maksudnya orang tua hendaknya menjadi contoh atau mentor.
D = Do'a. Maksudnya orang tua berdo'a untuk kesusesan anak. Di samping segala sesuatu diawali dan diakhiri dengan do'a.
Ternyata faktor orang tua sangat berperan dalam hal ini, untuk ”menciptakan” lingkungan yang kondusif bagi terwujudnya harapan mulia ini. Berikut hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Al Hakim ”Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkan isinya, maka pada hari kiamat dia diberi mahkota dari cahaya, yang sinarnya seperti sinar matahari, dan kedua orang tuanya diberi dua lembar pakaian yang tidak mampu dikenakan dunia. Kedua orang tuanya itu bertanya, ’Mengapa kami diberi pakaian ini?’ ada yang menjawab, ’Karena anakmu yang membaca Al-Qur’an’.”
Tak inginkah kita menjadi orang tua yang mendapat balasan begitu indah dari Allah Swt. di hari perhitungan kelak?
sumber : http://dikiesweethome.multiply.com/
Read more...
Search This Blog
Saturday, July 31, 2010
Membiasakan Membaca Al-Qur’an Sejak Dini
Sunday, May 30, 2010
Resep Islam Menjauhi Sikap Malas
"Seandainya..." Kata ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Disadari atau tidak, sebagian besar orang boleh jadi biasa mengucapkannya, "Seandainya aku melakukan begini, tentunya begini dan begini, tidak begini..."
Nabi Muhammad SAW sangat tak menyukai umatnya mengumbar kata-kata 'seandainya'. Bahkan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya, kalimat lau (seandainya) membawa kepada perbuatan setan."
Syekh Shaleh Ahmad asy-Syaami, menjelaskan, kata 'seandainya' tidak membawa manfaat sama sekali. Menurutnya, meskipun seseorang mengucapkan ungkapan itu, ia tidak akan mampu mengembalikan apa yang telah berlalu, dan menggagalkan kekeliruan yang telah terjadi. Dalam bukunya bertajuk Berakhlak dan Beradab Mulia, Syekh asy Syaami mewanti-wanti bahwa ungkapan 'seandainya' bisa berkonotasi sebagai angan-angan semu, dan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
"Sikap seperti ini adalah sikap yang lemah dan malas," ujarnya. Bahkan, kata dia, Allah SWT pun membenci sikap lemah, tidak mampu, dan malas. Dalam hadis dinyatakan, "Allah SWT mencela sikap lemah, tidak bersungguh-sungguh, tetapi kamu harus memiliki sikap cerdas dan cekatan, namun jika kamu tetap terkalahkan oleh suatu perkara, maka kamu berucap 'cukuplah Allah menjadi penolongku, dan Allah sebaik-baik pelindung." (HR Abu Dawud).
Sikap tangkas dan cerdas yang di maksud, tutur dia, melakukan usaha dan tindakan-tindakan yang bisa membawa pada keberhasilan meraih sesuatu yang bermanfaat, baik di dunia maupun akhirat. Ini, sambung Syekh asy-Syaami, merupakan bentuk aplikasi terhadap hukum kausalitas yang telah Allah tetapkan.
Keutaman dari sikap tangkas dan cerdas yakni bisa menjadi pembuka amal kebaikan. Sebaliknya, sikap lemah dan malas, seperti telah di ingatkan Rasulullah SAW, hanya akan mendekatkan diri kepada setan. "Sebab, jika seseorang tidak mam pu atau malas melakukan se sua tu yang bermanfaat baginya dan ma syarakat sekitar, maka ia akan selalu menjadi seseorang yang kerap berangan-angan," paparnya.
Perbuatan dan sikap semacam itu, selain kontraproduktif serta tidak akan membawa pada keberhasilan, juga sama saja dengan membuka amal perbuatan setan karena pintu amal setan tidak lain adalah sikap malas dan lemah. Merekalah, tegas as-Syaami, adalah orang yang paling merugi.
Mengapa dikatakan orang yang paling merugi? Sebab, sifat malas dan lemah merupakan kunci segala bencana. Seperti, perbuatan maksiat sudah pasti terjadi karena lemahnya keimanan dan ketakwaan seseorang sehingga berani melanggar larangan agama.
Jadi, dia menambahkan, seorang hamba yang memiliki dua sifat tercela tadi, berarti ia tidak mampu melaksanakan amal perbuatan ketaatan serta tidak bisa melakukan hal-hal yang bisa membentengi dirinya dari godaan perbuatan jahat maupun maksiat.
Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri jilid XI menggarisbawahi, apabila penyakit hati itu telah menjangkiti manusia, maka ia akan mulai mendekati larangan Allah. Dia pun menjadi enggan untuk bertobat. Untuk itu, Nabi SAW memberikan tuntunan doa bagi umatnya agar terhindar dari dua jenis sifat tercela tadi. Rasulullah SAW berdoa, "Ya Allah, hamba meminta perlindungan kepadaMu dari kecemasan dan kesedihan."
Cemas dan sedih, keduanya juga bersumber dari malas dan lemah. Karena, apa yang telah terjadi, tidak mungkin diubah atau dihapus hanya dengan kesedihan, namun yang perlu dilakukan adalah menerimanya dengan kerelaan, sabar dan iman.
Demikian pula sesuatu yang mungkin terjadi di waktu mendatang, juga tidak mungkin dapat diubah atau dihapus hanya dengan kecemasan atau kekhawatiran. Maka itu, seseorang harus selalu siap membekali diri dengan sikap-sikap yang baik untuk menghadapi segala kemungkinan.
Oleh karenanya, Islam sangat menjunjung tinggi optimisme, kerja keras, dan berusaha sekuat tenaga. Jiwa seorang Muslim sejati adalah yang meyakini bahwa rezeki Allah SWT sangatlah berlimpah, dan disediakan bagi siapapun yang mampu menggapainya dengan semangat dan etos kuat.
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." (QS al Jumu'ah [62] : 10) Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan. Harapan selalu dibarengi dengan usaha, sementara anganangan atau kemalasan hanyalah angan-angan kosong. Semoga kita dijauhkan dari sifat malas.
Smaller Reset Larger
Red: irf
Rep: yusuf ashiddiq
sumber: http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/fatwa/10/05/04/114351-inilah-resep-islam-menjauhi-sikap-malas
Read more...
Wednesday, October 7, 2009
NASEHAT DALAM MENGHADAPI MUSIBAH ; GEMPA BUMI DAN BENCANA ALAM
Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui terhadap semua
yang dilaksanakan dan ditetapkan. Sebagaimana juga Allah Maha Bijaksana
dan Maha Mengetahui terhadap semua syari'at dan semua yang
diperintahkan. Allah menciptakan tanda-tanda apa saja yang
dikehendakiNya, dan menetapkannya untuk menakut-nakuti hambaNya.
Mengingatkan terhadap kewajiban mereka, yang merupakan hak Allah Azza
wa Jalla. Mengingatkan mereka dari perbuatan syirik dan melanggar
perintah serta melakukan yang dilarang.
Sebagaimana firman Allah.
Artinya : Dan tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.[Al-Israa : 59]
FirmanNya
Artinya : Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga
jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar. Dan apakah Rabb-mu
tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala
sesuatu. [Fushilat : 53]
Allah Aza wa Jalla berfirman.
Artinya : Katakanlah (Wahai Muhammad) : Dia (Allah) Maha Berkuasa
untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah
kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang
saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan
sebahagian yang lain. [Al-An'am : 65]
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahih-nya dari Jabir bin
Abdullah Radhiallahu anhu , dari Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam,dia (Jabir) berkata : sifat firman Allah Azza wa Jalla Qul
huwal al-qaadiru alaa an yab'atsa alaikum adzaaban min fawuqikum
turun, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berdo'a : Aku
berlindung dengan wajahMu, lalu beliau Shallallahu alaihi wa sallam
melanjutkan (membaca) "Awu min tajti arjulikum", Rasulullah berdo'a
lagi, 'Aku berlindung dengan wajahMu.[1]
Diriwayatkan oleh Abu Syaikh Al-Ashbahani dari Mujtahid tentang tafsir
ayat ini : Qul huwal al-qaadiru 'alaa an yab'atsa 'alaikum "adzaaban
min fawuqikum". Beliau mengatakan, yaitu halilintar, hujan batu dan
angin topan. "Awu min tajti arjulikum", gempa dan tanah longsor.
Jelaslah, bahwa musibah-musibah yang terjadi pada masa-masa ini di
beberapa tempat termasuk ayat-ayat (tanda-tanda) kekuasaan yang
digunakan untuk menakut-nakuti para hambaNya. Semua yang terjadi di
alam ini, (yakni) berupa gempa, longsor, banjir dan peritiwa lain yang
menimbulkan bahaya bagi para hamba serta menimbulkan berbagai macam
penderitaan, disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat. Sebagaimana
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan
oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema'afkan sebagian
besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy-Syuura : 30]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Artinya : Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan
bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu
sendiri.[An-Nisaa : 79]
Tentang umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
Artinya : Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan
dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan
batu krikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang
mengguntur (halilintar), dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke
dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah
sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri.[Al-Ankabut : 40]
Maka wajib bagi setiap kaum Muslimin yang mukallaf dan yang lainnya,
agar bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, konsisten diatas diin
(agama)Nya, serta waspada terhadap semua yang dilarang, yaitu berupa
perbuatan syirik dan maksiat. Sehingga, mereka selamat dari seluruh
bahaya di dunia dan akhirat, serta Allah menolak semua adzab dari
mereka, dan menganugrahkan kepada mereka segala jenis kebaikan.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Artinya : Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan
bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya. [Al-A'raaf : 96]
Allah Azza wa Jalla berfirman tentang Ahli Kitab.
Artinya : Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum)
Taurat, Injil dan (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada mereka dari
Rabb-nya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan
dari bawah kaki mereka. [Al-Maidah : 66]
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
Artinya : Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka
sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari
kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggahan
naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari
adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari
adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi. [Al-A'raaf : 97-99]
Al-Alamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : Pada sebagian waktu,
Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan ijin kepada bumi untuk bernafas,
lalu terjadilah gempa yang dahsyat. Dari peristiwa itu, lalu timbul
rasa takut pada diri hamba-hamba Allah, taubat dan berhenti dari
perbatan maksiat, tunduk kepada Allah dan penyesalan. Sebagaimana
perkataan ulama Salaf, pasca gempa. Sesungguhnya Rabb kalian mencela
kalian, Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu, pasca gemba di Madinah
menyampaikan khutbah dan nasihat ; beliau Radhiyallahu anhu
mengatakan, Jika terjadi gempa lagi, saya tidak akan mengijinkan
kalian tinggal di Madinah. Selesai perkataan Ibnul Qayyim
rahimahullah-.
Atsar-atsar dari Salaf tentang hal ini sangat banyak. Maka saat terjadi
gempa atau peristiwa lain, seperti gerhana, angin ribut atau banjir,
wajib segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla, merendahkan diri
kepadaNya dan memohon afiyah kepadaNya, memperbanyak dzikir dan
istighfar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
ketika terjadi gerhana.
Artinya : Jika kalian melihat hal itu, maka segeralah berdzikir kepada
Allah Azza wa Jalla, berdo'a dan beristighfar kepadaNya. [2]
Disunnahkan juga menyayangi fakir miskin dan bershadaqah kepada mereka.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Artinya : Kasihanilah, niscaya kalian akan dikasihani.[3]
Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Artinya : orang yang menebar kasih sayang akan disayang oleh Dzat Yang
Maha Penyayang. Kasihinilah yang di muka bumi, kalian pasti akan
dikasihani oleh (Allah) yang di atas langit.[4]
Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Artinya : Orang yang tidak memiliki kasih sayang, pasti tidak akan disayang.[5]
Diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahulah, bahwa saat terjadi
gempa, dia menulis surat kepada pemerintah daerah agar bershadaqah.
Diantara faktor terselamatkan dari segala keburukan, yaitu pemerintah
segera memegang kendali rakyat dan mengharuskan agar konsisten dengan
al-haq, menerapkan hukum Allah Azza wa Jalla, di tengah-tengah mereka,
memerintahkan kepada yang ma'ruf serta mencegah kemungkaran.
Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.
Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian
mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh
(mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan
shalat, menunaikan zakat dan mereka ta'at kepada Allah dan RasulNya.
Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijakasana. [At-Taubah : 71]
Allah berfirman.
Artinya : Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong
(agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha
Perkasa,(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di
muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh
berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar ; dan
kepada Allah-lah kembali segala urusan. [Al-Hajj : 40-41]
Allah Azza wa Jalla berfirman.
Artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rizki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada
Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. [Ath-Thalaaq :
2-3]
Ayat-ayat tentang ini sangat banyak.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
Artinya : Barangsiapa menolong saudaranya, maka Allah Azza wa Jalla akan menolongnya. [Muttafaq Alaih] [6]
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
Artinya : Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin
dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah Azza wa Jalla akan
melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan
akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan,
maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang
menutup aib seorang muslim, maka Allah Azza wa Jalla akan menutupi
aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah Azza wa Jalla akan selalu
menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.
[Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya] [7]
Hadits-hadits yang semakna ini banyak.
Hanya kepada Allah kita memohon agar memperbaiki kondisi kaum Musimin,
memberikan pemahaman agama dan menganugrahkan kekuatan untuk istiqomah,
segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dari semua perbuatan dosa.
Semoga Allah memerbaiki kondisi para penguasa kaum Muslimin, semoga
Allah menolong al-haq melalui mereka serta menghinakan kebathilan,
membimbing mereka untuk menerapkan syari'at Allah Azza wa Jalla atas
para hamba. Dan semoga Allah melindungi mereka dan seluruh kaum
Muslimin dari fitnah dan jebakan setan yang menyesatkan. Sesungguhnya
Allah Maha Berkuasa untuk hal itu.
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
http://www.almanhaj.or.id/content/2045/slash/0
[Majmu Fatawa wa Maqaalaat Mutanawwi'ah IX/148-152]
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Th X/1427/2006M.Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183. Judul diatas disesuaikan oleh admin almanhaj]
_________
FootNote
[1]. Dikeluarkan Imam Al-bukhari dalam kitab Tafsir Al-Qur'anil Azhim, no. 4262, dan diriwayatkan Imam Tirmidi no. 2991
[2]. Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam Al-Jum'ah,no. 999 dan Imam Muslim dalam Al-Kusuf, no. 1518
[3]. Diriwayatkan Imam Ahmad, no. 6255
[4]. Diriwayatkan Imam Tirmidzi di dalam Al-Birr wash Shilah, no. 1847
[5]. Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam Al-Adab no. 5538, dan Imam Tirmidzi di dalam Al-Birr wash Shilah,no. 1834
[6]. Diriwayatkan Imam Bukhari dalam Al-Mazhalim wa Ghasab, no. 2262 dan Muslim dalam Al-Birr wash Shilah wal Adab, no. 4677
[7]. Diriwayatkan Imam Muslim, no. 4867 dan Imam Tirmidzi dalam Al-Birr wash Shilah, no. 1853
Read more...
Tuesday, October 6, 2009
Renungan terhadap bencana
Assalaamu'alaikum Wr.Wb
Saya mendapa email dari sahabat "kumpulan blog and web indonesia"
MuRa AnakJalanan October 2 at 4:39pm, tentang wacana dan renungan bagi kita semua...wallahualam bishowab, ambil hikmahnya aja, sbb :
""Saya Dapat Pesan Dari Teman 1 Kantor Saya..Trus saya Iba Lemah Merinding Membaca nya.. Subhannallah... Yg isi Pesan Tersebut ::
Bencana mestinya bisa membuat kita mawas diri, terutama kita sebagai orang yang beriman. Terlepas dari apakah ini azab atau ujian dari Allah SWT, yang jelas Allah SWT sedang menurunkan tanda-tanda kebesarannya, kalau kita mau memikirkan dan mau "melihatnya" .
Gempa di Sumatra Barat kemarin dan hari ini sangat menarik.
Coba kita perhatikan waktu gempa utama yang terjadi kemarin, jam 17.16 WIB. Sekarang, coba kita simak Quran Surat 17 (Al Isra) ayat 16
وَإِذَا أَرَدْنَا أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta'ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. "
Kemudian gempa susulan terjadi pukul 17.38. Kita buka Quran Surat 17 (Al Isra) ayat 38:
كُلُّ ذَلِكَ كَانَ سَيٍّئُهُ عِنْدَ رَبِّكَ مَكْرُوهًا
"Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu."
Dan...
Gempa susulan lagi yang terjadi tadi pagi di Kerinci (perbatasan Sumatra Barat-Jambi) , kejadiannya pada pukul 8.52. Dengan bergetar...kami coba buka Quran Surat 8 (Al Anfal) Ayat 52:
كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَفَرُواْ بِآيَاتِ اللّهِ فَأَخَذَهُمُ اللّهُ بِذُنُوبِهِمْ إِنَّ اللّهَ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya. "
Subhaanallaah. ...merinding kita dibuatnya. Bangsa ini sedang diingatkan terus-menerus oleh Allah SWT....tapi tampaknya kita....sekali lagi.... kita semua tidak mau belajar dan memperbaiki kehidupan bangsa ini yang terus-menerus berbuat kerusakan dan kezaliman... .
Semoga ini bisa membuat kita kembali kepada diri kita masing2 dan kembali kepada jalan Tuhan, Allah Azza wa Jalla.... berbuat lurus dalam pekerjaan dan kehidupan kita masing2 dan meninggalkan hal-hal yang buruk (bathil) dalam kehidupan nyata keseharian.. .. ""
Wallahu'alam
Read more...
Saturday, September 12, 2009
Pohon cinta Allah...
Cinta Allah adalah pohon yang tumbuh berangsur-angsur di dalam hati insan yang ingin menanamnya.
pohon cinta ini ada benihnya yang perlu disemai, di siram, di jaga.
hati adalah tempat menanam benih pohon cinta Allah.
barang siapa yang sudi menanam benih pohon cinta itu di hatinya, pasti ada harapan benih itu akan tumbuh menjadi pohon rindang dan berbuah lezat dan dinikmati oleh semua makhluk Allah..
wahai para perindu syurga.. dimanakah sumber benih cinta Allah??
benih cinta yang asli ada di dalam Al Qur'an, kalau mampu galilah ia, benih yang sudah tumbuh dan menjadi pohon yang berbuah manis ada di pada Sunnah dan diri Rasulullah..
buah-buah dari pohon cinta rasulullah inilah yagn perlu engkau petik untuk mendapat benih cinta Allah..
bulan ramadhan adalah musim yang bagus tuk memulainya
mulai menanam,
mulai menjaga,
mulai memetik,...
jangan lewatkan sedetikpun, kini musim itu tlah berada di masa2 akhir...
smoga kita memiliki pohon cinta Allah di halaman hati kita...
fastabiqul khairot.
nb:
Artikel apik ini saya dapatkan dari aeny zawa salah satu pencetus moslem generation community di fb. Semoga bermanfa'at buat kita semua ya...:)
Read more...
Saturday, July 25, 2009
Agar Ramadhan lebih bermakna
''Bulan Ramadhan(adalah) bulan yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk(hudan) bagi manusia dan penjelasan(bayan) tentang petunjuk itu dan furqan(pembeda haq dan bathil)'' (QS. Al-Baqarah: 185)
Ramadhan sebentar lagi menghampiri kurang lebih sekitar 27 hari lagi, begitu agungnya bulan suci ini maka jangan sampai terlewatkan dan tersia-siakan begitu saja, jangan sampai hadir tanpa makna dan pergi tanpa kesan sehingga penyesalanlah pada akhirnya.
Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan agar Ramadhan esok lebih bermakna antara lain:
Suasana
Persiapan-persiapan yang harus dilakukan agar Ramadhan kali ini lebih berkesan antara lain fisik kita, suasana ruhani, kegiatan, management waktu optimal, hal ini diharapkan ibadah kita didalamnya bisa lebih fokus.
Peralatan dan Tempat Ibadah
Untuk lebih mendukung kekhusyu'an kita harus mempersiapkan segala peralatan yang kita gunakan dan tempat ibadah kita dengan sebaik-baiknya agar ibadah kita terasa lebih nyaman.
Kesiapan Pemahaman
Hal ini cukup penting menyangkut pemahaman kita terkait dengan ibadah bulan Ramadhan antara lain; adab dan etika, syarat rukun ibadah, doa-doa dan berbagai hafalan-hafalan serta pemahaman lain yang akan mendukung sukses ibadah bulan Ramadhan.
Program dan Acara
Setiap pribadi hendaknya menscedhule kan kegiatan pada bulan Ramadhan ini karena sudah pastinya kegiatanya akan lebih padat dan butuh jadwal agar tidak terbengkalai salah satu ibadah kita bisa jadi disusun per satu minggu atau atau sepuluh hari hal ini juga berpengaruh pada optimalnya waktu.
Target
Setiap individu juga harus mempunyai target ibadah agar ibadah itu tepat waktu antara lain khatam Al-Quran dalam bulan Ramadhan dll.
Beradaptasi
Ramadhan berbeda dengan bulan lainya baik dari nuansa maupun fadhilahnya dan biasanya perubahan jadwal kehidupan terjadi luar biasa hal ini perlu menyelaraskan diri dengan berbagai persiapan antara gerak rohani dan fisik.
Kesehatan
Yang dibutuhkan adalah kesiapan fisik yang prima dan penjagaan yang continue.
Memusyawarahkan
Dalam bulan Ramadhan ini juga kita harus bermusyawarah khususnya dengan keluarga (suami/istri/anggota keluarga yang lain) tentang kegiatan-kegiatan bahkan menu yang akan dikonsumsi pada saat buka/sahur, hal ini agar terjadi keselarasan dalam keluarga.
Saudaraku..
Mudah-mudahan dengan persiapan diatas kita lebih bisa mengoptimalkan kesempatan dan waktu dalam beribadah didalam bulan Ramadhan dan membawa perubahan yang lebih baik setelah bulan Ramadhan.
Kesempurnaan hanya milik Allah semata.
Read more...
Titik Kemuliaan Ibu Rumah Tangga
Saya sangat terharu dengan perkataan dari Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei yaitu : "Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna."
SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood, Marilyn Monroe, menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai berikut:
".Waspadailah popularitas wahai wanita.Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan manusiawi."
Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah.
Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga, penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak ada seorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana.
Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan dan fitrah mereka sendiri. Mahmud Mahdi Al Istambuli menyampaikan kabar kesadaran mereka itu sebagai berikut: "Mereka baru-baru ini mulai mengajukan persamaan dengan wanita Muslimah, sesudah mereka tahu apa tujuan di balik semboyan-semboyan dan slogan-slogan bohong itu. Wanita-wanita barat rindu mendapatkan kehidupan sebagaimana dialami wanita di negeri Islam. Mereka menuntut persamaan dengan kehidupan para Muslimah itu."
MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.
Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.
Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama ini diajarkan Islam. Ajaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia.
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Anda yang beraktivitas di luar rumah, baik Anda sebagai dokter, dosen di perguruan tinggi, atau profesi-profesi akademis lainnya yang pada tempatnya tentu relevan, tetap harus memberikan kiprahnya di dalam rumah. Masalah keibuan, status sebagai istri, rumah dan rumah tangga, semuanya merupakan hal amat fundamental dan vital. Anda bukanlah wanita yang sempurna jika Anda tidak menangani urusan di dalam rumah. Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan itu ialah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna."
Dr. Mien Uno, salah seorang tokoh perempuan negeri ini mengungkapkan hal senada. "Saya menganggap bahwa ibu rumah tangga adalah karir yang sangat terhormat. Akan tetapi, banyak masyarakat kita yang berpendapat bahwa status ibu rumah tangga bukanlah karir karena tidak bergerak dalam lingkup publik. Saya tidak mengerti yang dimaksudkan dengan lingkup publik. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, justru ibu rumah tangga adalah posisi yang sangat terhormat karena dia melingkupi faktor-faktor sosial dengan keluarga, dengan masyarakat. Dia peletak dasar agama, kemudian sebagai seorang pendidik yang baik. Karenanya, dia berkarir sebagai ibu rumah tangga."
Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea, mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:
Istriku Yang Tidak Bekerja
Suatu ketika
Siapa yang mengerik sagu?
Siapa merawat ternak itu?
Menjadi tumbuh dan menjual makanannya
Hingga keluarga bertahan
Siapa menimba air di sumur?
Merawat dan menyayang anak-anak itu?
Merawat yang sakit?
Yang pekerjaannya menghabiskan waktu
Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya?
Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?
Yang perjuangannya
Tak terlihat
Tak terdengar
Tak dihargai
Tak terbantu
Membantu pembangunan?
Siapa peduli untuk bilang
Benarkah Istriku tidak bekerja?
Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Keterhormatan itu akan semakin lengkap manakala seorang ibu rumah tangga mampu mewujudkan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah.
Menurut Al Ghazali, yang dimaksud sakinah adalah hendaknya seorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Sementara mawaddah, berarti seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.
Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup.
Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina? Wallahua'lam. (Syam/MQ)***
menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah,
namun juga bukan sesuatu hal yang sulit.
menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja merupakan sebuah pilihan,
banggalah menjadi ibu apapun jalan yang ditempuh
hanya ibu yang tau apa yang terbaik untuk keluarganya.
Sumber www.mqmedia. com -
Read more...
Thursday, July 23, 2009
Renungan Diri
Postingan kali ini hanya sebagai perenungan kita bersama...apa yang telah kita lakukan selama dan sampai saat ini kita hidup, berjumpa dengan ramadhan dari tahun ketahun, yang kita ketahui bersama bahwasanya bulan ramadhan adalah bulan pembersihan diri, bulan untuk kita kembali fitrah seperti bayi yang baru lahir. Mari kita remungkan apakah kita semakin bertambah umur adakah perubahan kearah yang lebih baik...???
mungkin wacana berikut bisa menyadarkan diri kita buat perenungan karena kita bisa menilai diri kita sendiri...
TIDAK DINGGAP MULIA orang yang mengangkat diri dengan MENJATUHKAN ORANG LAIN
Jangan pernah merasa MULIA dengan MEREMEHKAN orang lain. KEMULIAAN akan dimiliki oleh mereka yang RENDAH HATI
Tidaklah layak orang TAKUT pada resiko kritik sebab seseorang TIDAK AKAN HINA dan jatuh harga dirinya karena kritik
Seorang manusia tidak akan terampil MEMELIHARA LISANNYA kecuali dengan ILMU dan KESUNGGUHAN MELATIH DIRI untuk berkata BAIK dan BENAR atau DIAM
Kemuliaan seseorang tidak akan BERKURANG hanya karena dicaci, dimaki, di hina, dilecehkan dan disakiti orang lain. Karena letak KEMULIAAN kita adalah pada AKHLAK
Setiap pernyataan dan gerak gerik kita akan menentukan NILAI DIRI kita . Oleh karena itu lakukanlah hal yang terbaik yang dapat MENINGKATKAN KUALITAS DIRI KITA .
Sungguh bahagia apabila setiap manusia SALING BERLOMBA melayani, membantu dan menghormati dan membahagiakan SAUDARANYA
Kejatuhan kita di sisi manapun adalah kalau kita tidak sanggup serius MEMIMPIN DIRI KITA SENDIRI
Kalau kita tetap berjuang menegakkan keadilan , tidak akan berkurang kemuliaan kita walau dianiaya siapapun
KEMULIAAN itu terkait dengan KETAATAN , sementara KEHINAAN terkait dengan KEMAKSIATAN , Taat kepada Allah akan menghasilkan cahaya, kemuliaan, kebahagiaan dan ketersingkapan hijab dan petunjuk
Dikutip dari kutipan Aa' Gym (Abdullah Gymnastiar)
Read more...
Tuesday, July 7, 2009
Macam-macam Ibu
Sahabat sekalian kali ini postingan masih berkisar tentang ibu. Waktu buka kembali file2 lama ada artikel mengenai macam-macam ibu. Maksudnya bukan ibu tiri atau ibu angkat atau ibu sesusuan. tetapi ibu dalam artian besar dan luas. Penasaran...simak wacana berikut... :)
Pernah ada sebuah cerita pada masa Rosulullah SAW, bahwa sebagai anak menghormati orang tua itu adalah kewajiban utama, bahkan Rosululloh bersabda yang harus dihormati lebih dulu adalah Ibu, Ibu, Ibu, kemudian ayah. Kenapa Rosulullah sampai menyebut Ibu sebanyak tiga kali baru ke ayah. Bukan berarti kita mengesampingkan peran seorang ayah. Akan tetapi cerita tersebut menekankan bahwa peran Ibu memang sangat besar dan luar biasa.
Ada juga hadits “Al Jannatu Tahta Aqdaamil Ummahat” artinya Surga di bawah telapak kaki ibu, di Indonesia bahkan ada peringatan hari khusus untuk Ibu yaitu “Hari Ibu”. Di jari kita juga ada sebutan “Ibu Jari”. Bumi yang kita pijaki disebut “Ibu Pertiwi”, dll. Dari keterangan-keterangan tersebut tentu ada makna yang mendalam mengenai makna Ibu, sehingga Rosulullah menyebutkan sampai 3 kali. Adapun maknanya adalah Ibu yang pertama adalah Ibu Kandung, kedua adalah Hajar Aswad, dan ketiga ialah Bumi. Berikut ini ulasannya :
1. Ibu Kandung.
Ibu adalah orang tua yang mengandung, berjuang ketika melahirkan, dan yang merawat sampai akil baligh. Tentu peran ibu memang sangat besar melihat tugas-tugas yang dilaksanakannya. Mulai merawat ketika mengandung, perjuangan antara hidup dan mati pada waktu melahirkan, mendidik dan merawat ketika bayi sampai beranjak dewasa. Dengan kesabaran dan kegigihannya seorang ibu selalu sabar dan teguh serta ikhlas dalam membesarkan si anak tanpa adanya pamrih ketika anak dewasa kelak. Sehingga dengan pengorbanan baik lahir maupun batin, dengan semangat yang tak kenal menyerah, tentu pantas dan wajib bagi kita sebagai anak untuk menghormati ibu, dengan cara selalu menghormati, taat, dan jangan sampai membantahnya, kecuali kalau perintahnya melanggar syariat agama.
2. Hajar Aswad.
Ka’bah merupakan kiblat umat Islam di dunia dalam beribadah sholat. Di Ka’bah terdapat batu yang menjadi simbol atau dijadikan kiblat bagi umat Islam. Jadi sangat pas kalau Rosulullah menyebut “Surga di bawah telapak kaki ibu” artinya orang Islam yang yang iman (mukmin) dan ihsan tentu dalam beribadah sholat akan menghadap ke kiblat secara syariat (lahir) sedangkan hatinya (batin) akan selalu tertuju pada Allah SWT. Maknanya setiap muslim yang selalu istiqomah (menikmati/khusu’) dalam beribadah khususnya sholat maka sebagai syariatnya /patokannya harus menghadap ke kiblat (Hajar Aswad). Hal ini bisa dikatakan orang yang taat pada aturan Allah SWT berarti akan memperoleh derajat taqwa. Sehingga Hajar Aswad bisa diartikan secara lebih mendalam tentang hakikat makna ibu yang kedua. Jadi, kita sepatutnya menghormati hajar aswad dengan cara meningkatkan amal ibadah sholat kita.
3. Bumi.
Kalau kita masih kecil maka yang memberi makan adalah orang tua, umumnya kita berada di gendongan seorang ibu. Lalu, kalau kita sudah besar apa tetap ibu yang menggendong, tentu bukan! Tapi yang menggendong sebenarnya adalah “bumi” tempat kita berpijak, hidup sebagai makhluk di dunia ini. Maka jika kita berpikir lebih dalam lagi bahwa bumi perannya sangat besar karena sebagai tempat hidup semua makhluk (Manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan). Kita mendapatkan makanan juga dari hasil bumi, kita menjalankan kendaraan juga butuh minyak bumi (hasil bumi), dll. Jadi, sangat tepat bahwa kita harus menghormati bumi dengan cara manjaga kelestariannya dan mengolah hasil bumi dengan tidak merusaknya.
Begitulah saudaraku, sedikit yang bisa saya sharing selaku ummat dari Rosulullah bahwa kita wajib menghormati Ibu sebanyak 3 kali. Dengan merenungkan, meresapi, dan merasakan hal tersebut, insya Allah akan semakin memacu motivasi beribadah dan hidup kita di dunia. Semakin mencintai ibu dan orangtua kita apalagi dikala usia senja mereka. Semoga kita semua termasuk salah satu penghuni jannah Allah dengan memuliakan orangtua,amin ya rabbal alamin.
Read more...
Wahai Ibu
Sebelumnya saya memposting tentang peranan seorang ayah. kali ini postingan saya mengenai seorang ibu. Dalam alqur'an begitu tegas Allah menekankan dan mengingatkan kesusahan ibu saat mengandung serta memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada ibu (QS.Al-Ahqaf:15). Ketika Nabi SAW ditanya tentang siapa yang paling patut dihormati dan diperlakukan sebaik-baiknya, Nabi menjawab: “Ibumu”. Dan hal itu diulangnya sampai tiga kali, sebelum ia menyebut “bapakmu”. Dalam hadits, Nabi SAW berkata bahwa surga terletak dibawah telapak kaki kaum ibu.
Barusan sambil saya meninabobokan jundi kecil saya alif entah kenapa perasaan "kecil" muncul didalam hati, teringat ibu dikampung halaman berdua dengan ayah, anak2 sudah besar dan pergi merantau ada yg wajib mengikuti suami seperti saya, yang laki2 bekerja di kota lain bekerja mencari kehidupannya dan masa depannya. Entah kenapa mata ini terasa panas, tanpa sadar pipi telah basah oleh airmata (airmata rindu). Walaupun sudah menjadi seorang ibu tapi saya masihlah seorang anak perempuan yg butuh ibunya(perasaan lbh halus):).pasti setiap anak ibu mereka adalah yg terbaik dari yg terbaik.
Ibu merupakan sebuah peran sosial yang sangat kita kenal dan sangat dekat dengan kita. Ibu adalah seseorang wanita yang penuh dengan cinta dan kasih sayang yang berlimpah kepada keluarganya, terutama anak-anaknya, atau bahkan ia melimpahkan kasih sayang ke kerabat lain.
Seorang Ibu biasanya sangat sabar, pemaaf, berusaha mengerti anak-anaknnya, tidak pernah memberikan kasih sayangnya dengan syarat, dan sangat perhatian terhadap keluarganya. Sehari-harinya ibu menyiapkan segala keperluan anak-anak dan suaminya, ibu biasanya mengatur seluruh urusan rumah tangga, ibu yang memasak sehari-hari untuk anak dan suaminya, dan ibu biasanya yang merapikan rumah.
Selain itu ibu membimbing anaknya dalam segala hal, misalnya ibu membimbing anaknya ketika sedang belajar atau mengerjakan tugas, ibu juga membimbing anaknya ketika menghadapi suatu permasalahan.
Ibu biasanya juga menemani anaknya dalam berbagai situasi. Seorang ibu senang memberikan pelukan dan cium sayang untuk anak-anaknya, dan juga suaminya. Kadang kala ibu suka bertindak tegas atau bahkan marah ketika anak-anaknya melakukan kesalahan. Semua tindakan yang Ibu lakukan merupakan suatu usaha untuk membuat keluarganya nyaman, membentuk anaknya menjadi sebuah individu yang sehat baik jasmani dan rohani, dan membimbing anak-anaknya agar menjadi orang yang berhasil.
Seluruh tindakan yang ibu lakukan merupakan bentuk kasih sayangnya yang sangat tulus dan ibu ingin membuat anak serta suaminya merasa dicintai dan diperhatikan.Bagi seorang ibu lembaga perkawinan dan keluarga, serta peraturan dalam rumah atau keluarga merupakan instrumen yang penting. Lembaga perkawinan dan keluarga adalah suatu media dimana ibu melimpahkan kasih sayangnya. Selain itu, peraturan dalam rumah merupakan peraturan-peraturan yang ditetapkan bersama suaminya untuk mengatur atau mengkontrol anak-anaknya. Peraturan tersebut merupakan batasan yang ditetapkannya untuk kebaikan keluarganya terutama anak-anaknya. Peraturan tersebut dibuat agar anak-anaknya dapat tearah dan kenyamanan dapat terbentuk.
Dalam peran ibu, masalah dapat timbul dari anak, suami, dan urusan rumah tangga lainnya. Ketika anak kurang patuh kepada orangtua, hal ini menjadi sebuah problem bagi ibu. Namun hal tersebut merupakan hal yang normal dimana seorang anak sebagai sebuah individu yang unik kadangkala memilki pendapat yang berbeda. Misalnya ketika sang anak menolak mengikuti les piano, tapi sang ibu berkeinginan keras agar anaknya bisa main piano. Perbedaan keinginan tersebut menimbulkan bentrokan kecil dalam keluarga. Begitu pula dengan suami, terkadang memilki perbedaan pendapat dalam mendidik anak atau dalam pengaturan urusan rumah tangga. Problem-problem tersebut seharusnya dapat diatasi karena sebagai satu keluarga mereka harus saling mengerti.
Ibu yang selalu melimpahkan kasih sayang yang tulus dan tanpa syarat, membuat kenyamanan dalam rumah bagi keluarganya, membimbing anak-anaknya, dan selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga, menunjukkan bahwa ibu memilki archetype caregiver. Seorang ibu sebagai caregiver selalu memberikan segalanya yang terbaik untuk keluarganya sehingga terkadang ia lupa akan dirinya sendiri.
Apa yang sudah kita perbuat dan berikan buat ibu kita wahai sahabat...
Read more...
KECEMBURUAN BURUNG HUD-HUD TERHADAP PENYELEWENGAN TAUHID
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surah An-Naml ayat 20-26 tentang pembicaraan Nabi Sulaiman 'alaihissalam dengan burung Hud-hud :
"Artinya : Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata : "Mengapa aku tidak melihat Hud-hud apakah dia termasuk yang tidak hadir.
Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan yang terang".
Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata : "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya ; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.
Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah ; dan syaithan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.
Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar" [An-Naml : 20 - 26]
Tergerak dari sebuah rasa kecemburuan terhadap penyimpangan aqidah dalam hati seekor burung ketika ia merasa enggan melihat seseorang bersujud dan menyembah kepada selain Allah. Yang mana hal tersebut dilandasi dengan dasar ilmu bahwa penyembahan yang dilakukan kepada selain Allah adalah perbuatan sia-sia dan merupakan kebinasaan. Inilah suatu kebenaran yang nyata dan wajib untuk diketahui oleh semua orang.
(Kemudian timbul pertanyaan) bagaimana mereka bisa sujud kepada selain Allah, menundukkan kepala-kepala mereka dan merendahkan (dengan rasa hina) leher-leher mereka dihadapan mahluq--mahluq Allah ? semsestinya kepala-kepala dan leher harus terangkat, tubuh harus berdiri tegak dihadapan makhluk Allah. Karena seluruh mahluk adalah sama derajatnya dihadapan Allah dalam permasalahan ubudiyah (peng-hambaan) meskipun dalam masalah setatus derajat kehidupan di dunia mereka berada. Maka kening itu tidak boleh ditundukkan kecuali hanya kepada Allah saja, punggung tidak boleh dimiringkan dan ditundukan dengan rasa hina kecuali hanya kepada Dzat Yang Maha Pemberi Kehidupan. Itulah kemuliaan yang telah Allah berikan kepada manusia yang mulia. Ubudiyah (peribadatan) bagi manusia adalah sebuah kedudukan yang tinggi dan tidaklah dipilih hak dan pelaksanaan peribadatan itu kecuali oleh orang-orang yang berilmu.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah diberikan penawaran oleh Allah 'Azza wa Jalla antara menjadi seorang Raja (penguasa) dan Rasul (utusan) atau sebagai seorang Hamba dan Rasul (utusan). Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memilih sisi ubudiyah (penghambaan) yaitu sebagai seorang hamba yang di utus, karena beliau mengetahui hakikat dari ubudiyah, dan bagaimana mungkin beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengetahui hal tersebut sedangkan beliau adalah sebagai orang yang mengajarkan Al-Hikmah (Al-Qur'an dan Sunnah).
Pada hakikatnya burung Hud-hud ini adalah salah satu sosok makhluq Allah yang beriman, artinya bahwa ia tidak mengetahui yang patut disembah kecuali hanya Allah semata. Sebagaimana firman Allah.
"Artinya : Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka" [Al-Isra : 44]
Dan sebuah kenyataan bahwa burung Hud-hud ini memiliki ilmu dan mengenal beberapa perkara yang samar dimana urusan tersebut tidaklah dikenal kecuali oleh kalangan Ahlul ilmi (orang-orang yang berilmu). Tidaklah Hud-hud ketika melewati pada suatu kaum musyrik dengan sikap sebagaimana orang-orang yang tidak peduli dengan keberadaan kaum yang mereka lewat dihadapannya, tidak pula terburu-buru dalam menafsirkan keadaan kaum tersebut, dengan mengatakan : "Mereka adalah orang-orang bodoh dan dungu". Akan tetapi Hud-hud bergerak dan pergi dengan perlahan-lahan kemudian datang melaporkan kejadian yang baru ia saksikan kepada Nabi Allah Sulaiman 'Alaihi sallam dengan kabar yang yakin (tidak diragukan kebenarannya).
Ada pendapat yang mengatakan : Bahwasanya Hud-hud adalah hewan yang telah dipersiapkan secara khusus dan termasuk salah satu dari golongan pasukan Nabi Sulaiman yang bertugas khusus dalam hal pengintaian (menjaga serta mengawasi) dan memiliki kedudukan sebagai mahluk yang berakal dan berilmu.
Bisa jadi perkataan itu benar. Akan tetapi yang paling penting dalam kasus di atas adalah sikap marah dan perlawanan yang dimiliki dan diberikan oleh seekor burung terhadap penyimpangan tauhid yang terjadi. Sementara di lain pihak kita melihat dan menemukan sebagian manusia dari kalangan orang-orang Islam yang melewati dan melihat kejadian sebagaimana yang dialami burung Hud-hud ini tanpa ada rasa marah dan ingkar dalam diri mereka. Bahkan terkadang mereka membenarkan sikap orang-orang yang bersalah dan tersesat dari jalan tauhid.
Bagaimanakah seandainya burung Hud-hud ini melewati pada sebagian negeri-negeri kaum muslimin pada zaman sekarang dan melihat sikap mereka bergegas untuk mendatangi tempat-tempat yang diagungkan seperti perkuburan-perkuburan, kubah-kubah (sejenis bangunan untuk menutupi atas kuburan tertentu). Dan bagaimanakah seandainya Hud-hud mendengar teriakan-teriakan mereka yang muncul dari sebagian kaum muslimin yang menyeru kepada selain Allah ?!
Sungguh suatu realita pahit yang sangat disayangkan ; kapan kaum muslimin akan sadar dan memperhatikan hal ini .... kapankah pula para Da'i Islam memperhatikan hal ini??
Oleh : Syaikh Abdul Mu'min bin Muhammad An-Nu'man
Disalin dari Majalah : Al Ashalah edisi 15-16 hal 49-50, diterjemahkan oleh Majalah Adz-Dzkhiirah Al-Islamiyah Edisi : Th. I/No. 03/Dzulhijjah 1423/Februari 2003, hal 11-12. Terbitan Ma'had Ali Al-Irsyad - Surabaya]
Read more...
Kehidupan Bak Panggung sandiwara
sahabat blogger postingan kali ini mari kita mereenungi beberapa kalimat dari kehidupan kita didunia fana ini yang hanya sementara bak panggung sandiwara. Baru beberapa saat yang lalu, terdengar gegap gempita bumi dipenuhi tawa riang manusia. Derap membahana sang musik pecahkan keheningan malam. wajah-wajah lelah pulang dari mencari nafkah beradu dengan wajah-wajah sangar dan dekil sang penguasa jalanan.
Kelap-kelip lampu menerangi setiap sudut kota, hilir mudik pejalan tiada henti seperti arus deras tanpa kendali. Hingar bingar kehidupan malam telah dimulai. Sebuah kenistaan yang mereka nggap sebagai peradaban dimulai...
Akan tetapi....tiba-tiba waktu seakan terhenti, langit gelap, suara musik telah lenyap, hingar bingar hilang, senyap dan mencekam semakin dirasa.
Sungguh jiwa telah mempersaksikan bahwa hingar-bingar musik peradaban telah terganti sunyi senyap musik alam. Istana besar nan mewah hanya digadai lubang sempit ukuran 1-2 meter, sebuah rumah tanpa jendela, pintu , tikar, apa lagi lampu yang ada hanya pengap, gelap dan binatang tanah yang kan menemani dalam penantian keabadian itu.
Maka sungguh benar dalam firman Allah bahwa
"Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian"(Al-Imran:185)
Sebuah batas antara fana dan abadai itu tipis, hanya berbatas kematian yang setiap jiwa tidak pernah tau kapan nyawa akan diambil.
Hidup ini adalah panggung sandiwara yang setiap orang menjadi tokoh utama dalam kehidupannya masing-masing. Ridho tau murka adalah 2 apresiasi tas penampilan panggung sandiwara.
Jika malaikat telah merngkuh jiwa, maka terikan sang komandanpun tak terdengar, tau tangis pilu nan perih sang pap juga tidak terjamah.
Panggung sandiwara ini akan segera berakhir, akankah kita membuat sebuah cerita indah yang menginspirasi dan membelajarkan atau sebuah cerita duka yang diwarnai sifat buruk tanpa pernah disadari...?
Saudaraku,.. memiliki peran dalam panggung sandiwara itu hal yang pasti, tapi tokoh utama yang protagonis dengan happy ending itu daalah hasil ikhtiar dan tawakal.
Karena sungguh batas panggung sandiwara dan kehidupan abadai itu tipis. maka jangan samapi kita menyesal, saat sebuah masa atas nama permintaan tanggung jwab datang menjelang..
Persipakan dan bersiap siagalah, gunakan waktu saat berperan dalam panggung sandiwara ini dengan baik. sebelum nyawa ini diambil. atau kita akan menyesal nantinya.
wallahu alam bisahawab.
Read more...
Navigasi
My contact
| Check Page Rank of any web site pages instantly: |
| This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service |
