Pada hari selasa tanggal 7 Juli 2009 siang2 saya membaca pesan dishoutmix dari sahabat blogger bernama yakurai biasa dipanggil yak kalau saya dapat kado dari seseorang. This's message >>...
Yak : "assalamu'alaikum bu!!!! ada kado tuh dari seseorang, ambil ya....syukran..."Details 11:32 Jul 7, 2009
Setelah diselidiki ternyata award dari International Bloggers Community Award. Ini awardnya :
Ooo belum selesai nih award ada pe-ernya lho sebagai berikut...:
Here is some rules to join International Blogger Community:
1. Link the person who tagged you.
2. Copy the image above, the rules and the questionnaire in this post.
3. Post this in one or all of your blogs.
4. Answer the four questions following these Rules.
5. Recruit at least seven (7) friends on your Blog Roll by sharing this with them.
6. Come back to BLoGGiSTa iNFo CoRNeR (PLEASE DO NOT CHANGE THIS LINK) at http://bloggistame.blogspot.com and leave the URL of your Post in order for you/your Blog to be added to the Master List.
7. Have Fun!
Questions & Your Answers:
1. The person who tagged you : yak
2. His/her site's title and url: http ://yakurai.blogsome.com/
3. Date when you were tagged : July 7, 2009
4. Persons you tagged 7 person :
Seti@wan : http://amriawan.blogspot.com/
Ateh75 : http://sabarya.blogspot.com
pawewet : http://pawewetblogs.blogspot.com/
Tommie : http://www.tomiedluffy.com
DenMas : http://cahndableck.tk/
Ramdhan : http://www.ramdhan-azzarq.co.cc/
Ieda : http://rainbowbliss2009.blogspot.com/
Siip selesai juga peer saya, itulah 7 orang yang mendapatkan award ini sebenarnya sangat-sangat sulit untuk memilih 7 orang dari sekian banyaknya sahabat bloggers. Kalau saya punya award psendiri pasti tak bagi-bagiin kepada sahabat blogger semua...:). But ini hanya tugas, saya menghormati rule dari sang empunya award saja. Kepada sahabat blogger yang terpilih kiranya sudi untuk diambil, semoga persahabatan teteup langgeng, amin.
Read more...
Search This Blog
Tuesday, July 7, 2009
Award again...en again...:)
Katak Makan Ular!!
Seekor katak di China berhasil ditangkap kamera pada saat melakukan suatu hal yang sangat melawan hukum alam, mengunyah seekor ular!Gambar katak yang sedang mengunyah seekor ular ini diambil oleh seorang turis di taman Gunung Qingcheng, di Sichuan , China Tengah. Ran Longzhong, dari Chongqing , mengaku masih bingung dengan pemandangan yang dilihatnya, dan merasa beruntung bahwa dia membawa kamera.
"Waktu itu aku lagi jalan-jalan di pegunungan, entah kenapa, tiba-tiba katak yang lagi makan ular ini menarik banget, apalagi waktu itu si ular masih terlihat masih bergerak," katanya. "Sekitar lima menit kemudian, ular tadi sudah masuk ke dalam perut si katak. Sampai sekarang susah dipercaya, seekor pemangsa akhirnya berpindah ke perut mangsanya.
"Wallahu'alam...hanya Allahlah Yang Maha Tahu...
Read more...
Macam-macam Ibu
Sahabat sekalian kali ini postingan masih berkisar tentang ibu. Waktu buka kembali file2 lama ada artikel mengenai macam-macam ibu. Maksudnya bukan ibu tiri atau ibu angkat atau ibu sesusuan. tetapi ibu dalam artian besar dan luas. Penasaran...simak wacana berikut... :)
Pernah ada sebuah cerita pada masa Rosulullah SAW, bahwa sebagai anak menghormati orang tua itu adalah kewajiban utama, bahkan Rosululloh bersabda yang harus dihormati lebih dulu adalah Ibu, Ibu, Ibu, kemudian ayah. Kenapa Rosulullah sampai menyebut Ibu sebanyak tiga kali baru ke ayah. Bukan berarti kita mengesampingkan peran seorang ayah. Akan tetapi cerita tersebut menekankan bahwa peran Ibu memang sangat besar dan luar biasa.
Ada juga hadits “Al Jannatu Tahta Aqdaamil Ummahat” artinya Surga di bawah telapak kaki ibu, di Indonesia bahkan ada peringatan hari khusus untuk Ibu yaitu “Hari Ibu”. Di jari kita juga ada sebutan “Ibu Jari”. Bumi yang kita pijaki disebut “Ibu Pertiwi”, dll. Dari keterangan-keterangan tersebut tentu ada makna yang mendalam mengenai makna Ibu, sehingga Rosulullah menyebutkan sampai 3 kali. Adapun maknanya adalah Ibu yang pertama adalah Ibu Kandung, kedua adalah Hajar Aswad, dan ketiga ialah Bumi. Berikut ini ulasannya :
1. Ibu Kandung.
Ibu adalah orang tua yang mengandung, berjuang ketika melahirkan, dan yang merawat sampai akil baligh. Tentu peran ibu memang sangat besar melihat tugas-tugas yang dilaksanakannya. Mulai merawat ketika mengandung, perjuangan antara hidup dan mati pada waktu melahirkan, mendidik dan merawat ketika bayi sampai beranjak dewasa. Dengan kesabaran dan kegigihannya seorang ibu selalu sabar dan teguh serta ikhlas dalam membesarkan si anak tanpa adanya pamrih ketika anak dewasa kelak. Sehingga dengan pengorbanan baik lahir maupun batin, dengan semangat yang tak kenal menyerah, tentu pantas dan wajib bagi kita sebagai anak untuk menghormati ibu, dengan cara selalu menghormati, taat, dan jangan sampai membantahnya, kecuali kalau perintahnya melanggar syariat agama.
2. Hajar Aswad.
Ka’bah merupakan kiblat umat Islam di dunia dalam beribadah sholat. Di Ka’bah terdapat batu yang menjadi simbol atau dijadikan kiblat bagi umat Islam. Jadi sangat pas kalau Rosulullah menyebut “Surga di bawah telapak kaki ibu” artinya orang Islam yang yang iman (mukmin) dan ihsan tentu dalam beribadah sholat akan menghadap ke kiblat secara syariat (lahir) sedangkan hatinya (batin) akan selalu tertuju pada Allah SWT. Maknanya setiap muslim yang selalu istiqomah (menikmati/khusu’) dalam beribadah khususnya sholat maka sebagai syariatnya /patokannya harus menghadap ke kiblat (Hajar Aswad). Hal ini bisa dikatakan orang yang taat pada aturan Allah SWT berarti akan memperoleh derajat taqwa. Sehingga Hajar Aswad bisa diartikan secara lebih mendalam tentang hakikat makna ibu yang kedua. Jadi, kita sepatutnya menghormati hajar aswad dengan cara meningkatkan amal ibadah sholat kita.
3. Bumi.
Kalau kita masih kecil maka yang memberi makan adalah orang tua, umumnya kita berada di gendongan seorang ibu. Lalu, kalau kita sudah besar apa tetap ibu yang menggendong, tentu bukan! Tapi yang menggendong sebenarnya adalah “bumi” tempat kita berpijak, hidup sebagai makhluk di dunia ini. Maka jika kita berpikir lebih dalam lagi bahwa bumi perannya sangat besar karena sebagai tempat hidup semua makhluk (Manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan). Kita mendapatkan makanan juga dari hasil bumi, kita menjalankan kendaraan juga butuh minyak bumi (hasil bumi), dll. Jadi, sangat tepat bahwa kita harus menghormati bumi dengan cara manjaga kelestariannya dan mengolah hasil bumi dengan tidak merusaknya.
Begitulah saudaraku, sedikit yang bisa saya sharing selaku ummat dari Rosulullah bahwa kita wajib menghormati Ibu sebanyak 3 kali. Dengan merenungkan, meresapi, dan merasakan hal tersebut, insya Allah akan semakin memacu motivasi beribadah dan hidup kita di dunia. Semakin mencintai ibu dan orangtua kita apalagi dikala usia senja mereka. Semoga kita semua termasuk salah satu penghuni jannah Allah dengan memuliakan orangtua,amin ya rabbal alamin.
Read more...
Wahai Ibu
Sebelumnya saya memposting tentang peranan seorang ayah. kali ini postingan saya mengenai seorang ibu. Dalam alqur'an begitu tegas Allah menekankan dan mengingatkan kesusahan ibu saat mengandung serta memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada ibu (QS.Al-Ahqaf:15). Ketika Nabi SAW ditanya tentang siapa yang paling patut dihormati dan diperlakukan sebaik-baiknya, Nabi menjawab: “Ibumu”. Dan hal itu diulangnya sampai tiga kali, sebelum ia menyebut “bapakmu”. Dalam hadits, Nabi SAW berkata bahwa surga terletak dibawah telapak kaki kaum ibu.
Barusan sambil saya meninabobokan jundi kecil saya alif entah kenapa perasaan "kecil" muncul didalam hati, teringat ibu dikampung halaman berdua dengan ayah, anak2 sudah besar dan pergi merantau ada yg wajib mengikuti suami seperti saya, yang laki2 bekerja di kota lain bekerja mencari kehidupannya dan masa depannya. Entah kenapa mata ini terasa panas, tanpa sadar pipi telah basah oleh airmata (airmata rindu). Walaupun sudah menjadi seorang ibu tapi saya masihlah seorang anak perempuan yg butuh ibunya(perasaan lbh halus):).pasti setiap anak ibu mereka adalah yg terbaik dari yg terbaik.
Ibu merupakan sebuah peran sosial yang sangat kita kenal dan sangat dekat dengan kita. Ibu adalah seseorang wanita yang penuh dengan cinta dan kasih sayang yang berlimpah kepada keluarganya, terutama anak-anaknya, atau bahkan ia melimpahkan kasih sayang ke kerabat lain.
Seorang Ibu biasanya sangat sabar, pemaaf, berusaha mengerti anak-anaknnya, tidak pernah memberikan kasih sayangnya dengan syarat, dan sangat perhatian terhadap keluarganya. Sehari-harinya ibu menyiapkan segala keperluan anak-anak dan suaminya, ibu biasanya mengatur seluruh urusan rumah tangga, ibu yang memasak sehari-hari untuk anak dan suaminya, dan ibu biasanya yang merapikan rumah.
Selain itu ibu membimbing anaknya dalam segala hal, misalnya ibu membimbing anaknya ketika sedang belajar atau mengerjakan tugas, ibu juga membimbing anaknya ketika menghadapi suatu permasalahan.
Ibu biasanya juga menemani anaknya dalam berbagai situasi. Seorang ibu senang memberikan pelukan dan cium sayang untuk anak-anaknya, dan juga suaminya. Kadang kala ibu suka bertindak tegas atau bahkan marah ketika anak-anaknya melakukan kesalahan. Semua tindakan yang Ibu lakukan merupakan suatu usaha untuk membuat keluarganya nyaman, membentuk anaknya menjadi sebuah individu yang sehat baik jasmani dan rohani, dan membimbing anak-anaknya agar menjadi orang yang berhasil.
Seluruh tindakan yang ibu lakukan merupakan bentuk kasih sayangnya yang sangat tulus dan ibu ingin membuat anak serta suaminya merasa dicintai dan diperhatikan.Bagi seorang ibu lembaga perkawinan dan keluarga, serta peraturan dalam rumah atau keluarga merupakan instrumen yang penting. Lembaga perkawinan dan keluarga adalah suatu media dimana ibu melimpahkan kasih sayangnya. Selain itu, peraturan dalam rumah merupakan peraturan-peraturan yang ditetapkan bersama suaminya untuk mengatur atau mengkontrol anak-anaknya. Peraturan tersebut merupakan batasan yang ditetapkannya untuk kebaikan keluarganya terutama anak-anaknya. Peraturan tersebut dibuat agar anak-anaknya dapat tearah dan kenyamanan dapat terbentuk.
Dalam peran ibu, masalah dapat timbul dari anak, suami, dan urusan rumah tangga lainnya. Ketika anak kurang patuh kepada orangtua, hal ini menjadi sebuah problem bagi ibu. Namun hal tersebut merupakan hal yang normal dimana seorang anak sebagai sebuah individu yang unik kadangkala memilki pendapat yang berbeda. Misalnya ketika sang anak menolak mengikuti les piano, tapi sang ibu berkeinginan keras agar anaknya bisa main piano. Perbedaan keinginan tersebut menimbulkan bentrokan kecil dalam keluarga. Begitu pula dengan suami, terkadang memilki perbedaan pendapat dalam mendidik anak atau dalam pengaturan urusan rumah tangga. Problem-problem tersebut seharusnya dapat diatasi karena sebagai satu keluarga mereka harus saling mengerti.
Ibu yang selalu melimpahkan kasih sayang yang tulus dan tanpa syarat, membuat kenyamanan dalam rumah bagi keluarganya, membimbing anak-anaknya, dan selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga, menunjukkan bahwa ibu memilki archetype caregiver. Seorang ibu sebagai caregiver selalu memberikan segalanya yang terbaik untuk keluarganya sehingga terkadang ia lupa akan dirinya sendiri.
Apa yang sudah kita perbuat dan berikan buat ibu kita wahai sahabat...
Read more...
Mengenal kata "Bid'ah"
Banyak orang yang berkerut keningnya ketika pertama kali mendengar kata ini. Bermacam reaksi muncul dari seseorang ketika diingatkan tentang masalah ini. Ada yang menerimanya dan memperbaiki amalan ibadahnya dengan hidayah taufik dari Allah Ta’ala. Ada pula yang terlalu cepat menutup diri untuk memahaminya sehingga lebih sering berkata, “Ah… bisanya cuma membid’ah-bid’ahkan.”
Adapula yang memang sudah tidak asing dengan kata ini, tapi ternyata memiliki pemahaman yang salah dalam memaknainya. Ketahuilah saudara-saudariku! Pembahasan tentang bid’ah bukanlah milik golongan tertentu. Bahkan setiap muslim harus mempelajarinya dan mewaspadainya dan tidak menutup diri dari pembahasan ini. Karena Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
و شرّ الأمور محدثاتها، و كلَّ محدثة بدعة
“Dan seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah.” (HR. Muslim no. 867)
Dan sabda nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
قإنّ كلَّ محدثة بدعة و كلّ بدعة ضلالة
“Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)
Sama seperti pembahasan tentang kata sunnah pada artikel yang lalu, maka sungguh pembahasan ini sangat (sangat) penting, karena jika tidak memahaminya atau bahkan salah memaknainya, maka dapat mengakibatkan kesalahan dalam beramal dan beribadah. Semoga Allah memberikan kelapangan dalam dada-dada kita, untuk menerima kebenaran yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihi wa sallam.
Makna Bid’ah Secara Bahasa
Makna bid’ah secara bahasa adalah mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Penggunaan kata bi’dah secara bahasa ini di antaranya ada dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
قُلْ مَا كُنتُ بِدْعاً مِّنْ الرُّسُلِ
“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul.” (Al Ahqaf [46]: 9)
Dan juga firman-Nya,
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
“Dialah Allah Pencipta langit dan bumi.” (Al-Baqoroh [2]: 117)
Makna Bid’ah Secara Istilah
Berdasarkan definisi yang diberikan oleh Imam Syathibi, makna bid’ah secara istilah adalah suatu cara baru dalam agama yang menandingi syari’at dimana tujuan dibuatnya adalah untuk membuat nilai lebih dalam beribadah kepada Allah.
Dari definisi ini, kita perlu memperjelasnya menjadi beberapa poin.
Pertama, ’suatu cara baru dalam agama’.
Hal ini berarti cara atau jalan baru tersebut disandarkan kepada agama. Adapun cara baru yang tidak dinisbatkan kepada agama maka itu bukan termasuk bid’ah. (akan dibahas lebih rinci di bawah).
Kedua, ‘menandingi syari’at’.
Maksudnya amalan bid’ah mempersyaratkan amalan tertentu yang menyerupai syari’at, sehingga ada beban yang harus dipenuhi. Seperti misalnya puasa mutih, yasinan setiap hari kamis (malam jum’at), puasa nisyfu sya’ban dan lain-lain.
Perlu diperhatikan pula bahwa pada umumnya, setiap bid’ah juga memiliki dalil. Namun, janganlah terjebak dengan dalil yang diberikan, karena ada dua kemungkinan dari dalil yang diberikan. Pertama, dalil tersebut bersifat umum namun digunakan dalam amalan khusus. Kedua, bisa jadi dalil yang digunakan adalah palsu.
Oleh karena itu, wahai saudara-saudariku, menuntut ilmu agama sangat penting melebihi kebutuhan kita terhadap makan dan minum. Ilmu agama dibutuhkan di setiap tarikan nafas kita karena dalil dibutuhkan untuk setiap ibadah yang kita lakukan. Merupakan kesalahan ketika kita melakukan ibadah terlebih dahulu baru mencari-cari dalil. Inilah yang membuat pengambilan dalil tersebut menjadi tidak tepat karena sekedar mencari pembenaran pada amalan yang sebenarnya bukan termasuk syari’at.
Ketiga, ‘tujuan dibuatnya adalah untuk membuat nilai lebih dalam beribadah kepada Allah’. Artinya, setiap bid’ah merupakan tindakan berlebih-lebihan dalam agama, sehingga dengan adanya bid’ah tersebut maka beban seorang muslim (mukallaf) akan bertambah. Salah satu contohnya mengkhususkan puasa nisyfu sya’ban, padahal puasa ini tidak disyari’atkan dalam Islam. Sungguh merugi bukan? Kita berlindung kepada Allah dari segala perbuatan sia-sia.
Mewaspadai Bid’ah
Dari definisi yang telah disebutkan menunjukkan bid’ah tidak lain merupakan perbuatan yang bertujuan menandingi syari’at. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maaidah [5]: 3)
Maka tidak perlu lagi bagi seseorang untuk membuat cara baru dalam agama atau mencari ibadah-ibadah lain yang itu adalah kesia-siaan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
منْ عمِل عملا ليس عليه اَمرنا فهو ردّ
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka tertolak.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من أحدث في أمرنا هذا ما ليس مِنه فهوردٌّ
“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadits ini, ada tiga unsur yang membuat sesuatu dapat dikatakan sebagai bid’ah.
Pertama, mengada-adakan.
Ini diambil dari lafadz man ahdatsa (من أحدث). Akan tetapi membuat sesuatu yang baru bisa terjadi dalam perkara dunia ataupun agama. Maka diperlukan unsur yang kedua.
Kedua, perkara baru tersebut disandarkan pada agama.
Ini diambil dari lafadz fii amrina (في أمرنا). Unsur kedua ini perlu dilengkapi unsur ketiga. Karena jika tidak, akan timbul pertanyaan atau keraguan, “Apakah semua perkara baru dalam agama tercela?”
Ketiga, perkara tersebut bukan bagian dari agama.
Ini diambil dari lafadz ma laisa minhu (ما ليس مِنه). Artinya, tidak ada dalil yang sah bahwa hal tersebut pernah ada.
Setiap Bid’ah Adalah Sesat
Ketahuilah saudara-saudariku. Setiap bid’ah adalah sesat. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
و شرّ الأمور محدثاتها، و كلَّ محدثة بدعة
“Dan seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah.” (HR. Muslim no. 867)
Dan sabda nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
قإنّ كلَّ محدثة بدعة و كلّ بدعة ضلالة
“Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)
Adapun pembagian yang ada pada bid’ah, maka tetap menunjukkan kesesatan bid’ah tersebut. Maka pembagian bid’ah menjadi bid’ah sayyi’ah dan bid’ah hasanah adalah sebuah kesalahan sebagaimana penulis jelaskan sebab-sebabnya dalam artikel sebelumnya.
Imam Syathibi rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya pembagian bid’ah (yang tetap menetapkan kesesatan seluruh bid’ah) yang dapat memperjelas kerancuan yang ada di masyarakat.
Yang pertama adalah bid’ah hakiki yang perkaranya lebih jelas (kecuali bagi orang-orang yang taklid dan tidak mau belajar) karena bid’ah hakiki tidak memiliki sandaran dalil syar’i sama sekali. Semisal menentukan kecocokan seeorang untuk menjadi suami atau istri dengan tanggal lahir atau melakukan ritual-ritual khusus dalam acara pernikahan yang tidak ada landasannya dalam syari’at sama sekali.
Adapun jika berkaitan dengan bid’ah idhofi maka sebagian orang mulai rancu dan bertanya-tanya. Misalnya, bid’ah dzikir berjama’ah, atau tahlilan. Banyak orang terburu-buru dengan mengatakan, “Masa dzikir dilarang sih?” atau “Kok membaca Al Qur’an dilarang?” Maka kita perlu (sekali lagi) memahami lebih dalam tentang bid’ah ini.
Bid’ah idhofi ini mempunyai dua sisi, sehingga apabila dilihat pada salah satu sisi, maka seakan-akan itu sesuai dengan sunnah karena berdasarkan dalil. Namun bila dilihat dari sisi lain, amalan tersebut bid’ah karena hanya bersandar kepada syubhat, tidak kepada dalil atau tidak disandarkan kepada sesuatu apapun. Adapun bila dilihat dari sisi makna, maka bid’ah idhofi ini secara asal memiliki dalil. Akan tetapi dilihat dari sisi cara, sifat atau perinciannya, maka dalil yang digunakan tidak mendukungnya, padahal tata cara amalan tersebut membutuhkan dalil. (Majalah Al-Furqon edisi 12 tahun V).
Maka jelas yang dilarang bukanlah dzikir atau membaca Al-Qur’an untuk contoh dalam masalah ini. Akan tetapi, kebid’ahan tersebut terletak pada tata cara, sifat atau perincian pada ibadah tersebut yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dengan melafadzkan dzikir bersama-sama dipimpin satu imam atau membaca Al-Qur’an untuk orang mati. Semuanya ini adalah cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Catatan penting dalam masalah ini adalah dalam perkara ibadah (yaitu apa-apa yang kita niatkan untuk mendekatkan diri kita pada Allah Subhanahu wa Ta’ala), kita harus memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesuai dengan yang dicontohkan dan diperintahkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Demikianlah saudara-saudariku, sedikit pengantar untuk memahami tentang kata bid’ah dan bahayanya. Pembahasan tentang bid’ah memiliki lingkup yang sangat luas - yang dengan keterbatasan penulis - tidak dapat dituangkan seluruhnya dalam tulisan kali ini. Untuk memperdalam pembahasan, silakan melihat kembali kitab-kitab yang penulis jadikan rujukan. Semoga Allah Ta’ala mempermudah kita dalam memahami pembahasan ini dan menerimanya dengan lapang dada serta menjadikan kita orang-orang yang berusaha kuat menjauhi perkara baru dalam agama. Aamiin ya mujibas saailin.
Maraji’:
1. Majalah Al Furqon edisi 12 tahun V/rajab 1427
2. Kajian kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad oleh Ustadz Aris Munandar
3. Ringkasan Al I’tisham - terj -, Syaikh Abdul Qadir As Saqqaf, Media Hidayah, Cet I, thn 2003
Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih
Artikel www.muslimah.or.id
Read more...
Navigasi
My contact
| Check Page Rank of any web site pages instantly: |
| This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service |
