Search This Blog

Tuesday, July 7, 2009

Kehidupan Bak Panggung sandiwara

sahabat blogger postingan kali ini mari kita mereenungi beberapa kalimat dari kehidupan kita didunia fana ini yang hanya sementara bak panggung sandiwara. Baru beberapa saat yang lalu, terdengar gegap gempita bumi dipenuhi tawa riang manusia. Derap membahana sang musik pecahkan keheningan malam. wajah-wajah lelah pulang dari mencari nafkah beradu dengan wajah-wajah sangar dan dekil sang penguasa jalanan.

Kelap-kelip lampu menerangi setiap sudut kota, hilir mudik pejalan tiada henti seperti arus deras tanpa kendali. Hingar bingar kehidupan malam telah dimulai. Sebuah kenistaan yang mereka nggap sebagai peradaban dimulai...

Akan tetapi....tiba-tiba waktu seakan terhenti, langit gelap, suara musik telah lenyap, hingar bingar hilang, senyap dan mencekam semakin dirasa.

Sungguh jiwa telah mempersaksikan bahwa hingar-bingar musik peradaban telah terganti sunyi senyap musik alam. Istana besar nan mewah hanya digadai lubang sempit ukuran 1-2 meter, sebuah rumah tanpa jendela, pintu , tikar, apa lagi lampu yang ada hanya pengap, gelap dan binatang tanah yang kan menemani dalam penantian keabadian itu.
Maka sungguh benar dalam firman Allah bahwa
"Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian"(Al-Imran:185)

Sebuah batas antara fana dan abadai itu tipis, hanya berbatas kematian yang setiap jiwa tidak pernah tau kapan nyawa akan diambil.

Hidup ini adalah panggung sandiwara yang setiap orang menjadi tokoh utama dalam kehidupannya masing-masing. Ridho tau murka adalah 2 apresiasi tas penampilan panggung sandiwara.

Jika malaikat telah merngkuh jiwa, maka terikan sang komandanpun tak terdengar, tau tangis pilu nan perih sang pap juga tidak terjamah.

Panggung sandiwara ini akan segera berakhir, akankah kita membuat sebuah cerita indah yang menginspirasi dan membelajarkan atau sebuah cerita duka yang diwarnai sifat buruk tanpa pernah disadari...?

Saudaraku,.. memiliki peran dalam panggung sandiwara itu hal yang pasti, tapi tokoh utama yang protagonis dengan happy ending itu daalah hasil ikhtiar dan tawakal.

Karena sungguh batas panggung sandiwara dan kehidupan abadai itu tipis. maka jangan samapi kita menyesal, saat sebuah masa atas nama permintaan tanggung jwab datang menjelang..

Persipakan dan bersiap siagalah, gunakan waktu saat berperan dalam panggung sandiwara ini dengan baik. sebelum nyawa ini diambil. atau kita akan menyesal nantinya.

wallahu alam bisahawab.

Related Post by Categories



3 komentar:

TomieDLuffy said...

Duh ummmi, bikin saya bergetar aja... :(
jika mengingat mati, saya pun jadi sangat takut akan kematian itu. Saya takut, saya belum siap menghadapi kematian, karena saya belum marasa cukup dan masih sangat jauh dan banyak yang harus saya bawa untuk bekal di akhirat nanti.
Semoga Allah selalu senantiasa berada di sisi kita, dan selalu mengingatkan kita untuk selalu berada di jalan-Nya. Aamiin.. :)

Suara Petualang said...

Sebuah lubang yang sangat ditakuti oleh manusia sebelum memasukinya, namun setelah masuk dalam lubang itu percayalah tidak ada manusia yang mau keluar lagi, sudah merasa betah didalam lubang itu...

Mari kita jalani kehidupan dengan bimbingan-Nya.
Salam.

Pawewet said...

Terimakasih ummi Alif..akan postingan ini...semoga jadi penyemangat kita tuk berlaku baik, untuk jelang hari yang pasti tiba itu...

Translation code

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Navigasi

My contact


Your Name
Your Email Address
Subject
Message
Image Verification
Please enter the text from the image
[ Refresh Image ] [ What's This? ]


"Award My Family In Diary"

Check Page Rank of any web site pages instantly:
This free page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service